Kamis, 25 April 2013

Saudariku, Mampukah kita menjadi seperti beliau?

Sebuah panutan indah telah tertulis dalam sejarah hidup Fatimah bin abdul malik. Beliau adalah sosok perempuan yang nyaris sempurna,  cantik, cerdas, keturunan terpandang, serta kaya raya. Bagaimana tidak kaya, beliau adalah  putri khalifah tertinggi, serta saudari dari empat khalifah Islam ternama, yaitu Al-Walid bin Abdil Malik, Sulaiman bin Abdil Malik, Yazid bin Abdil Malik, dan Hisyam bin Abdil Malik.

Namun, dibalik semua kemewahan itu, beliau begitu mencintai kesederhanaan. Inilah yang membuat sang suami Amirul Mukminin Umar bin Abdil Aziz, sang khalifah besar dari Bani Ummayah merasa beruntung karena memiliki istri yang mampu mendidik hatinya dan mengalahkan nafsunya dalam mencintai dunia.

Setelah menikah, Fatimah memiliki harta yang begitu berlimpah pemberian dari ayahnya. Hartanya adalah yang paling berharga yang pernah dimiliki oleh seorang perempuan di atas permukaan bumi ini, yang berupa perhiasan dan intan permata.

Namun, semua berubah ketika Umar bin Abdul Aziz mendapat amanat sebagai seorang khalifah. Betapa sedihnya Umar ketika tugas berat tersebut dibebankan kepadanya. Terbayang keadaannya di akhirat, saat Allah meminta semua pertanggungjawabannya dalam memimpin umat.

Umar bin Abdul Aziz kemudian mengajak Fatimah untuk mengurangi beban hidupnya dengan cara menyerahkan semua harta, berikut perhiasan yang dimiliki Fatimah ke Baitul Mal.

Selanjutnya, jadilah sang khalifah besar itu hanya mendapatkan gaji yang begitu kecil, yaitu dua dirham per hari atau 60 dirham per bulan. Namun sebagai istri yang baik, Fatimah tidak pernah protes, malah beliau dengan ikhlas selalu mendukung suaminya.

Setelah Umar meninggal, Dinasti Ummayah pun dipimpin oleh saudara Fatimah bernama Yazid bin Abdul Malik. Suatu hari, Yazid menemui Fatimah untuk mengembalikan harta-harta yang disimpan di Baitul Mal. Yazid berkata kepada Fatimah “Umar telah dholim kepada hartamu, sekarang aku kembalikan kepadamu. Ambillah!”

Diluar dugaan, Fatimah menolak semua tawaran saudaranya tersebut. Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kembali. Karena aku patuh kepada suami untuk selamanya. Bukan ketika dia masih hidup aku patuh, lalu setelah meninggal berkhianat”

Yazid merasa sangat kagum dengan sikap saudara perempuannya itu. Dia lalu mengambil kembali harta-harta Fatimah dan membagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Sikap Fatimah yang seperti inilah, yang berhasil membawanya sebagai salah satu contoh mulia dari seorang wanita salehah yang taat kepada suami dan yang selalu mendahulukan kepentingan umat.

Ternyata wanita tidak perlu memerlukan gemerlapnya perhiasan untuk terlihat indah. Dengan Iman, rasa malu serta ketundukan kepada Robbnya serta ketaatan kepada suaminya, justru dia akan menjadi perhiasan itu sendiri. Dan pastinya menjadi yang terindah dari yang pernah ada.

Dibalik kekuatan para suami, dukungan istri merekalah yang banyak menguatkan. Sebaliknya, dibalik kerepotan para suami, tuntutan istri merekalah yang banyak merongrong dan kemudian menghancurkan. Jika saja, saat ini banyak wanita  yang mencontoh sikap mulia dari Fatimah bin Abdul malik, maka akan banyak tenanglah batin suami dalam kehidupan mereka. Lalu adakah dari kita salah satunya yang mampu melakukan hal tersebut?

(Syahidah/voa-islam.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar