Kamis, 25 April 2013

Wanita Sebagai Pondasi Keuangan Keluarga


Ini adalah kisah nyata. Kisah tentang kehidupan dua orang wanita. Sebut saja mereka Mawar dan Melati. Secara kasat mata, keduanya tampaklah sama. Mereka berdua juga mengabdikan diri sepenuhnya untuk mengurus keluarga. Penghasilan suami- suami mereka kurang lebih juga sama. Merekapun memiliki keahlian yang seimbang dalam menata keuangan keluarga. Dan dari semua kesaamaan itu, hal yang paling mirip  adalah yang berkaitan dengan hobi, yaitu berbelanja.

Namun, mereka memiliki sedikit perbedaan mencolok. Hal ini terjadi terutama diakhir bulan. Mawar bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung. Sedangkan Melati, dia pasti sibuk kesana kemari untuk berhutang, untuk menutupi kekurangan finansial keluarga.

Selanjutnya, pertanyaanpun muncul. Apa yang salah dari kemampuan Melati dalam menjadi manajer keuangan keluarganya? kenapa bisa berbeda dengan Mawar? Bukankah pendapatan suami mereka tidak berbeda jauh?.

Usut punya usut, ternyata Mawar adalah wanita yang menyukai belanja, tapi untuk kebutuhan keluarga. Dia jarang menghabiskan uang untuk kesenangannya sendiri.Sedangkan Melati, dia lebih memilih untuk berbelanja kebutuhan pribadinya. Tentu saja, sebagai wanita berkelas, Melati memilih untuk membeli barang dengan merek ternama. Melati memang handal dalam mengatur kebutuhan keluarganya, namun dia sering tergoda untuk membeli barang baru dan bermerek yang sangat mahal. Alhasil keadaan keluarga Melati menjadi tidak terlalu harmonis. Sang suami sering kesal melihat istrinya berbelanja lepas kontrol. Dan anak- anak akhirnya tidak damai melihat ayah dan ibunya yang senantiasa tidak pernah rukun dirumah.

Sebuah pelajaran berharga bisa kita ambil dari kesalahan yang dilakukan mawar tersebut. Ternyata memiliki kemampuan mengatur keuangan yang baik saja tidaklah cukup. Pandai mendidik diri untuk tidak mudah tergoda dengan pernak pernik barang yang menarik, juga tidak kalah penting untuk diterapkan kepada diri kita sebagai wanita. Hal ini tentu saja tidaklah mudah. Mengingat, sudah menjadi fitrah seorang wanita yang  sangat menyukai berbelanja, barang- barang yang indah, dan pernak pernik yang cantik.

Namun jika godaan untuk membeli barang- barang level tersier ini diluar batas kendali, itu sama saja kita mengorbankan keutuhan keluarga demi ego sendiri. Hal ini tentu saja tidak akan mendamaikan. mengingat banyak dari pasangan suami istri yang menyelesaikan keruwetan masalah keungangan dengan pertengkaran. Akhirnya, hobi belanja yang awalnya dianggap bisa menyenangkan hati, malah akan menyusahkan seluruh keluarga.

Jadi sebagai sebagai manajer keluarga yang mumpuni, wanita tidak hanya dituntut untuk bisa mengatur nafkah yang diberikan oleh suami, namun mereka juga harus dengan baik mengakui kelemahan diri dalam hal yang berkaitan dengan materi. Menjauhi lingkungan yang mengutamakan gengsi dan gaya hidup mewah adalah hal yang wajib kita lakukan.

Walaupun penghasilan suami berlebih, hendaknya menabung adalah lebih baik untuk dilakukan, karena dunia itu berputar. Mungkin saat ini kita bisa dengan mudah mendapatkan materi. Namun seiring dengan berjalannya usia, siapa yang menjamin kita tetap berada “diatas”?. Kesimpulannya, wanita adalah memang pondasi keluarga. Pondasi itu salah satunya terletak dalam kecerdasannya mengatur nafkah yang diterima dari suami, Dan jika pondasi itu rapuh apalagi roboh,  bisa dipastikan seluruh keluargalah yang akan menanggungnya. 

Sebagai wanita muslimah, hendaknya wanita juga lebih berhati- hati dalam menjaga harta yang diamanahkan oleh suami. Karena semua amanah pasti akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wataala. Para istri tidak boleh curang dalam membelajakan harta suami mereka. Ijin dari suami harus terlebih dahulu mereka dapatkan, demi menjaga keberkahan dari harta tersebut.
“Wahai orang- orang beriman! Jangankan kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar) kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu …” (QS. An-nisa’:29)

Seorang istri adalah partner sejati suami mereka. Maka sudah sepantasnya jika seorang suami menyerahkan kepercayaan kepada para istri mereka. Dan istri yang baik akan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam pelaksanaan tugasnya ini. Karena itulah, mereka tidak mudah silau dengan harta, namun menggunakannya justru untuk meraih ridho Allah, lewat ketatnya pengawasan dan kualitas kontrol diri yang prima.

(Syahidah/voa-islam.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar